lantunan aku

Ida, seumpama aku berani untuk tetap memilihmu sebagai pusat hidupku, pertanyaannya, bahagiakah kita berdua? Dan anggaplah bahwa apa yang kurasa selama ini telah kuungkapkan kepadamu, masihkah kamu sudi bersamaku? Selanjutnya, bisakah hubungan yang telah terjalin itu menjadi ikatan kekal? Ida, dirimu tetaplah dirimu yang kamu yakini, pun adanya aku, seseorang yang saat ini sedang mencari arti hidup.
Munafik bila dalam kehidupan ini kita tidak memiliki rasa untuk memiliki sesuatu yang lebih. Kamu, aku adalah manusia, kita sama-sama tidak bisa merasa puas dengan apa yang ada pada kita saat ini. Munafik, bila kamu mau menerima aku yang sekarang ini. Dan sesuatu perbuatan yang tidak bertanggungjawab bila aku memaksakan diri untuk memilikimu.
Hidup memang butuh cinta, karena dengan cinta kita dapat merasakan hidup sebenarnya hidup. Aku mencintaimu, dan kupastikan selamanya diriku hanya mencintaimu. Tapi untuk membuat cinta tetap hidup, tidak cukup dengan hubungan emosional saja. Harus ada faktor-faktor penunjang, pondasi-pondasi yang kokoh agar cinta ini tidak mudah goyah, agar cinta tidak saling menyiksa.
Bersamamu adalah anugrah terindah bagiku. 3 tahun lalu merupakan masa-masa terindah bagiku. Bahagia, sedih, sakit, gembira, prasangka-prasangka, cemas, gelisah, cemburu, kecewa, semua bentuk emosi dihatiku terasa indah bila itu datangnya dari kamu. 3 tahun lalu, aku adalah bocah kecil yang asik-asik bermain dengan perasaan bersamamu dalam dunia yang kuciptakan sendiri.
Siapapun tidak akan percaya bahwa kamu sempat mencintaiku. Dimata lelaki yang berkenalan dan mungkin hanya sebatas tahu denganmu, tidak akan bisa meluputkan pikirannya untuk tidak memikirkanmu. Mungkin Tuhan sedang sangat bersenang hati dikala melukiskan dirimu. Kamulah makhluk Tuhan sempurna setingkat manusia. Sedang aku, merupakan salah satu dari deretan panjang lelaki biasa yang berada ditengah keramaian dan begitu sukar untuk terperhatikan.
Penggambaran kamu dengan diriku berupa bintang dangan puntung rokok. Bagitulah penganalogian teman-teman saat mereka berhasil memaksaku untuk mengatakan sesosok wanita yang aku cintai. Sosok wanita pertama yang membuatku merasakan sesuatu yang tidak kuketahui artinya. Wanita yang mengandung medan sadar sangat kuat, hingga aku terlepas dari kesadaranku dan masuk lebih dalam kedalam emosionalku.
30 Mai 2010. 13: 40 waktu ini, saat diriku ingin ber-asik-asik dengan kenanganku bersamamu.
Dan 20 Juni 2010.3:02 PM waktu aku teringat saat melihatmu Kamis lalu di rumah sakit tentara.
Hari itu, dua kejadian yang sangat mengusik nurani. Kepunahan jasad tiada bakal menggantikan keanehan rasa yang kulanda. Kala kami sedang berpergian untuk menyelenggarakan jenazah, seorang yang aku anggap sebagai ayah, seorang yang merupakan cita-citaku, seorang ayah dari seorang Andi eka satria, temanku, teman keriangan masa SMA. Kami berkumpul di Istana Pink,aku,Yozi,Astur,Jeri dan menyusul Afrizal dengan Willy. Sebelum solat Zuhur, kami sampai ditempat penyelenggaraan jenazah. Hatiku terharu, serasa berada di Rindam, tempatku dulu menghimpun diri. 30-an Tentara membentuk barisan dan upacara kematian ala militer dilakukan. Ah….., andai ada yang bertanya padaku, pasti akan aku jawab dengan lantang, akupun ingin meninggalkan dunia ini dengan upacara militer.
Aku perhatikan satu ke satu tentara, pikiran nakal menghimpun alam ketaksadaranku, hingga aku merasa bagai berada dalam barisan Tentara. Jiwa yang merajut, hidup bukan hanya soal niat, itu belumlah cukup. Jenazahpun ditandu ke surau, setiba di surau, kumandang azan bersaut sautan, pelayatpun melakukan solat Zuhur,setelah itu baru menyelenggarakan solat Jenazah.
Kembali hatiku geming, Wanda, adik Andi yang menjadi imam. Tanya besar mendera hatiku, andai aku diberadakan diposisi ini,sanggupkah aku? Aku, lelaki tunggal dalam ikatan pertalian darah. Aku malu pada diriku. Bila saat seperti ini datang di saat ini. Akulah makluk tuhan yang paling terkutuk dan teramat dalam dilanda penyesalan bersebab,ketidak mampuanku menjadi imam.
Jenazah ditanam beriringan dengan letusan pistol. Setelah itu hujan turun, kesenangan apa lagi yang diingini, selain ketenangan dan kedamaian. Hujan mulai reda, Yozi, Afrizal dan Willy kembali ke Singkarak, sementara aku,Astur dan Jeri menuju Solok. Untung, Robi terlihat hingga aku menebeng.
Tujuan pertama adalah bengkel Vespa. Menjemput vespa milik Yozi, setelah itu kami pergi minum jus dan menjenguk Sandro. Astur dan Jeri,masuk duluan, sedang aku meyusul karena vespa yang ku kendarai masih rayen yang mengakibatkan aku lambat. Didalam ruangan ada Sandro dengan ibunya serta teman-teman ibunya yang datang menjenguk. Tidak lama merekapun pulang. Sandro menawarkan buah-buahan serta roti, dan akupun mengambil Limau.
Aku tidak banyak bicara, mungkin lebih banyak Astur yang bertanya.30 menit berlalu, entah kenapa aku ingin kekamar kecil, padahal aku tidak memiliki alasan untuk ke kamar kecil. Setelah minta izin dengan mengode ke Sandro, aku langsung ke kamar kecil, tidak disangka-sangka, aku melihat sesosok wanita yang memang ingin dan sangat ingin kulihat sedang duduk mengerjakan sesuatu di ruang antara kamar dengan kamar mandi.
Ada apa ini tuhan? Apa yang ingin Kau katakan padaku? Apa yang Kau coba isaratkan padaku? Apakah Kau ingin agar aku membuka mata dan berkata kalau Ida memang tidak Engkau ciptakan untukku? Apa? Telah terlalu lama aku terbeban dengan perasan ini. Tiada airmata lagi. Tawa yang sebenarnya menyakitkan, hanya itu yang bisa kulontarkan. Atau Kau ingin membisikkan ke aku untuk mencari sesosok wanita lain pengganti Ida dihatiku? Aku belum bisa memahami dangan logika dan perasaanku. Kau tumbuhkan rasa begitu dalam di hatiku terhadap wanita berjudul Juni Afrida, kini Kau pinta aku untuk mencari penggantinya? Aku tidak bisa membaca isaratmu,Tuhan.
Penggalan kalimat yang terbaca olehku didalam hp Yozi, yaitunya “aku memang sakit melihatmu bersamanya, tapi akan teramat sakit bila kau dengan ku tapi tidak sekalipun kau bahagia”. Itulah kumpulan kata yang tegarkan diriku. Aku iklas dengan perasaanku. Lama aku didalam kamar mandi, entah apa yang aku pikirkan. Sedih, sakit, tidak mau mempercaya, kuselundupkan dengan senyuman. Dan kukuatkan untuk keluar dan menyapamu. Ah… dirimu telah dimilik orang, kau adalah haram bagiku.
Ingin ku kalahkan perasaan dengan logika sehat, tapi yang sakit tetap harus dikeluarkan. Daripada kutahan dan akirnya mengakibatkan kesakitan yang lebih dalam. Airmataku jatuh, aku malu, sungguh,aku begitu malu.
Hingga akupun tidak sanggup pulang dengan Astur dan Jeri. Aku menuju kampus berharap ada sedikit kebahagiaan maya menutupi kesedihan ini. Tetap airmata ini meraja. Ida, tamparan kenyataan ini terasa aneh dan menyesakkan buatku.
26 Juni 2010 11:19 am,ini hari menjelang peringatan hari lahirmu.
Aku sempat berpikir jauh saat kamu meng-add facebook-ku tentang rasa genit dihati ini,bertanya-tanya sendiri. Apakah ini sebentuk harapan? Dan aku kelewat berhayal ketika info tentangmu yang kau tulis berstatus lajang. Apalah ini? Mimpi itu mungkinkah bernyata? Atau ini hanya sekedar hasrat yang akirnya tetap ngantarku kedalam sakitnya pengharapan.
Waw, aku bahagia.
“jujur adalah modal utama” filosofi yang kamu pakai menjadi kata bijak. Hingga ngantarku mengambil kanvas dengan kuas dan sejuta warna untuk ku lukiskan mimpi yang lama tenggelam. Kau, keindahan, agar mimpi tidak terlalu rumit ku selipkan kata pahit di hati, agar nanti saat ku kecup kenyataan,aku tidak lagi segoyah dulu,segundah dulu, setidak terkontrol dulu.
Dua tujuh Juni 2010, 2 : 34 pm, hari ultahmu.
Akirnya memang aku dapat memahami, bahwa kata hanyalah sekedar kata, kata bukanlah kata. Kata tak isaratkan makna. Kata tak benakkan nyata. Dimana aku berdiri? Aku yang dangkal terjebak kata. “Jawab sendiri” bisik berkata. Bila akirnya maradang, katamu katakukah katamu? Lorongkan aku pada gua maha dalam daripada terlontar-lontar kebekuan yang tak miliki ruang.
Mimpiku bermati nyata, disharmonisasi antara hasrat, keinginan dengan kenyataan. Bisikan nakal. Roda perputaran waktu kian melaju pesat. Aku tetap berdiri didepan, dengan dada membusung dan keyakinan kuat masih menunggu secercah sinaran abadi. Ida, sosokmu terdiam dihati ini. Dan buatku takut dan tidak berani menatap yang lain.
Kisahku memang ada untuk wanita lain. Ada Tiara, Anissa, Fitria, ada Riri, ada Novi, Suci, ada Salmi, ada Rini. Sebentuk rasa yang kupaksa ada, dan itu hanya ngantar aku dan dia ke ruang aneh, entah itu cinta, entah napsu, entah itu rutinitas yang dipaksa. Hingga akirnya aku memilih untuk hengkang, lantaran aku bosan dengan hubungan yang tiada kuketahui maksudnya.
Ketidaknyataanmu terus kurasakan, seolah kau ada. Selku tetes-tetes napasmu, ruangmu meletupkan ruhku, semua dan setiap yang terjadi yang tak berarti dan yang paling berarti adalah detik-detik musim segala musimku mendekapmu, rasa ini mudahan tertata, rasa ini semoga membawa, antara titik dan koma belum tersirat kau dengan aku.
Ini hari bersejarah untukmu, ciptaan tuhan yang indah hadir dimuka bumi ini 22 tahun yang lalu. Telah 22, kau bukan remaja lagi, bila aku bisa, bila kau ingin, ingin diriku bersamamu satu hari ini saja, hanya kita berdua, antara kau dan aku, jujur masih ada beberapa pertanyaan diantara aku dan kau. Mungkin ini tiada lagi menjadi perhatianmu, tapi ini sungguh menjadi satu pikiran teramat gaduhkan aku.
Aku masih sakit denganmu, 2 pertanyaan besar bagiku yang sampai saat ini belum kuketahui jawabannya. Dan sempat ini kupertanyakan padamu gambaran umumnya saat kita sedang OL. Pertama, tiada bakal pernah kulupa pada tanggal 5 Feb 2007 04:36 pm di simpang tiga perumnas Koto Baru, ketika itu aku dibonceng Fitra dari Padang menuju Singkarak. Hp-ku berdering, kamu menelpon, inti dari pertanyaanmu adalah apakah aku masih lulus tes polisi, dan kujawab kalau aku kembali gagal, hp pun mati, dan sedari saat itu hingga saat sebelum aku mengkomfirm permintaan pertemanan FB, kita tiada pernah berkomunikasi. Hanya penjelasan darimu yang kuinginkan tentang hal demikian, hingga kau menghancurkan sesosok wanita dalam hatiku, cinta abadiku, kau hancurkan Idaku, ida yang kutahu, Ida yang selama ini buatku mampu dan sanggup menatap dunia.
Yang kedua, rasa sakitku datang dari perkata Bona rianda putra,katanya kau tak ingin mendengar namaku, kau tak ingin namaku disebut-sebut didepanmu, hinakah aku? Apa dipikiranmu hingga kau berani berkata itu?! Kau hancurkan wanita yang kucintai, kau bunuh wanita yang kucintai. Sakit hatiku da, sakit. Apa hakmu memadangku sehina itu?!
Dan aku tidak ingin mempercaya perkata bona itu. Aku pahami kalau dia hanya mau memanasi aku, membuatku jengkel dan amarah, tapi rasa sakit itu benaran ada, waktu itu kau berboncengan dengan Mel akan mengisi bensin di simpang Balailamo, kita berselisih, aku tersenyum, sedang kau merunduk, hancur. Segala yang kurasa hanyalah sakit. Untung si Mel membalas senyumku. Tapi tetap saja, bila tidak dianggap lagi oleh orang terkasih, hidup hanyalah sebuah ruang penderitaan.
Kenapa kau bunuh wanita yang kucintai! Kenapa kau biarkan aku menderita? Hatiku sangat sakit. Aku tidak bisa bersikap biasa. Saat itulah aku bersumpah tidak akan lagi pernah ingin mengenalmu, menyapamu, mau tau akan dirimu, aku bersumpah. Karena bagiku Juni afrida, poros kehidupanku telah tiada, telah dibawa tuhan. Seseorang yang nantinya menjadi halal bagiku musnah,ruhnya tiada, dirinya telah hilang hanya meninggalkan jasad yang entah ku tak tau dan tak mau peduli terhadap sosok yang kini ada dalam raga wanita yang aku cinta.
Penjelasan dari dua hal itu yang ingin kudengar darimu. Bukan untuk menambah masalahmu, bukan untuk berharap hadir kembali menjadi sesosok yang berarti bagimu, bukan! Tapi karena ku ingin bahagia, ingin terlepas dari siksa ini, kutukan ini, dari prasangka-prasangka yang perlahan-lahan membunuhku.
Salahkah bila aku tiada pernah bisa untuk tak mencintainya?
Dosakah bila rasa ini selamanya hanya untuknya?
Bila benar ini sebuah kesalahan,
Bila benar mencintainya adalah sebuah dosa
Biarkan kutanggung dosa ini,
Biarkan kutanggung segala yang menurut logika dan dunia adalah gila.
Biarkan kumenutup mata dengan dirinya meski tanpa nyata hadirnya
Biarkan kurasakan kalau dia selalu ada disampingku,tiap napas diriku
Dan jangan mempertanya
Akupun tiada tahu,mengapa musti J, wanita pemilik hatiku.
Ucapan selamat dariku teruntuk dikau yang hari ini berbahagia, bersuka cita, merasakanlah bahwa kebahagiaan telah lama menyambutmu, telah lama menantimu untuk membukanya. Teringat aku diwaktu 4 tahun yang lalu, saat itu dirimu juga merayakan hari ultahmu, tapi bukan ditanggal ini, tapi pada tanggal 10 Juni. Tanggal yang tercantum di semua file kepemilikanmu.
Waktu itu adalah waktu keriangan bocah hari-hari tamat dari SMA dan mencoba menjejal dunia dengan cita-cita. Masih segar di ingatanku, di pasar Padang, di bawah Matahari, aku membeli pernak pernik dari anting, gelang dan cincin, waktu itu habis uangku sebesar Rp.24.000 hanya itu sisa uangku selain dari Rp.15.000 buat ongkos pulang ke Singkarak. Mungkin itulah kado terindah dariku yang bisa kupersembahkan buatmu, meski dari bahan murahan dengan harga yang murah, tapi itulah kebisaanmu, sebatas kemampuanku.
29 JUNI 10 04:31 am. Aku berprasangka, terhadap hp-ku yang berdering tadi.
Hari ini sore begitu hangat, setelah mengantar amak, Aze dan Aza ke Solok, lantas aku langsung pulang menuju posko tiga pilar gus-edi, rencananya mau mengasih uang taruhan mak Pul semalam. Tiba disana terlihat di tv menyiarkan sinetron korea boys before flower, aku semangat menonton karena kisahnya menarik. Sama dengan sinema korea lainnya, ceritanya melibatkan perasaan, menyentuh, mengingatkan aku bahwa di dunia ini masih ada hati untuk menilai sesuatu.
Setelah selesai menonton, aku menuju warnet yang berada di persimpangan Beringin. Langsung saja ku buka FB, dan disana terlihat berita ada 1, pesan ada 1, dan permintaan pertemanan 15. Ku buka dulu ruang permintaan pertemanan ada 3 buah yang baru,salah satunya dari junee afrida. Langsung ku konfirm, setelah itu,ku buka ruang pemberitahuan, nike mengomentari pesan diding saya. “????” hanya itu yang dia komentari, setelah itu ku buka ruang pesan, pesan itu dari seseorang yang belum menjadi teman fb-ku. Rasa-rasanya photo frofilnya seperti uni ida, dan ku baca pesannya.
Ani Ajha Lho 26 Juni jam 21:35 Laporkan
smua tlh brbh …………
hny satu…………….!!!
hny doa n pengampunan ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,th smpai kpn ……………………………..??????????????
ida to

Sainsdistro Streetline 28 Juni jam 16:17
sorry……………
maksud ni a???

Sainsdistro Streetline 28 Juni jam 17:04
ko ida yo…?
wak ndak tau bana maksud ida do,,,
tapi klu tentang perasaan awak mananggapi pesan ida ko,mungkin arah ida ka perasaan awak yo?
wak iklas da,,,,, berbahagialah ida jo sandro.keinginan memang tak selamanya sesuai jo kenyataan,wak maklum.
dan untuk pengampunan???
ndak ngarati wak do da…! pengampunan tuak a???
yang lalu jadilah masa lalu yang indah,,sebatas untuk dikenang.
jujur ,,,,memang masih ada 2 pertanyaan ,,,di hati awak da.
tapi itu tidak lagi harus dijawab. toh aku dan ida telah berteman,telah bersahabat lagi.
itu cukup bagiku….
kenyataan yang telah kulihat sendiri telah menyadarkan aku.
bagai tamparan,,memang sakit,tapi itu harus kujalani.
lai dirayoan ultah ida,da?
setelah ini jan ngecek takah-takah iko lai di da….
wak lah lamo mailangan maliek sesuatu pakai perasaan da,,,
ko ndak kuat wak da ah……………….
wak pingin mangecek panjang jo ida a….
dihati awak ko ,,iyo masih ado sakik da,,,,
alun damai wak lai da…
napas wak masih sasak.
da,,, pertanyaan tu….wak sampaian se dih.
ndak untuk mambuek masalah baru bagi ida,tapi untuak katanangan awak se da.
1.dak bisa talupo dek awak disimpang perumnas koto baru .,waktu wak pulang dari padang ka singkarak,ida nelpon teus mananyoan kalulusan wak masuak polisi, wak jawek ndak lulus,,, itulah terakir kali wak mangecek j ida.wak dak ngarati ado a da? sampai ida mamutuhan hubungan entah itu dinamakan teman,atau sahabat,atau…..yang jelas ida memtuskan hubungan denganku.
2.sakik wak danga nyo da,,,iko nan samp[ai kini manyasak an hati wak da.kecek bona,ida jajok dangan namo awak,klu ado ida jan disabuik namo awak. a salah awak da?
sahina itu ida mamandang awak.
awak memang kecewa da,,dan awak paksoan hati awk ,klu bona tu ma angek an awak seh,
tapi waktu di balailamo,ida naek onda j simel ,ka maisi minyak,awak basalisiah da,awak senyum ida marunduk,untuang si mel lai baleh senyum awak,sakik da,,,….sakik da….
sajak tu awk pacayo kecek si bona….
dan wak bassumpah dalam hati wak da,indak ka mengenal ida,ndak ka mau tau a nan tajadi di ida,basumpah wak da,karena bagi awak ,,,ida yang wak cintai,,lah mati,lah dibunuah dek urang yang kini ado diraga ida tu.
a nan tajadi kini wak iklas da,,,
maaf kalau awak takah iko,,,tapi ikolah nan ado dihati awak da.
Itulah pesan yang kusampaikan. Ku coba mengerti maksudnya dan ku coba mencerna sesuai kemampuanku. Habis pikirku memaknai perkatanya, apalah yang menjadi niatan dari Ida? Pertama kucaba menjawab dengan tidak melibatkan rasa yang kusimpan tapi tak bisa, airmata ku menjatuh, aku tak kuasa menahan perasaan ini, mengapa musti dia pertanyakan disaat aku belajar mengiklaskan dirinya. Mengapa sakit yang ku abaikan, menguap menyiksaku. Ida mengapa harus kata-kata itu yang kau pesankan padaku?
Selain itu, di fb-mu ku tulis sesuatu di dindingmu.
Sainsdistro Streetline met ultah……………..tiada doa lagi yang tak kupintakan untuk kebahagiaan ida…
jadilah seperti apa yang ida mau,
amin. 28 Juni jam 16:33
2 Juli 10, 02:17 am, aku tidak bisa tidur lantaran terbiasa tidur lepas pukul 04 am.
Malam kemarin aku bermimpi tentang mu, Ida. Suatu masa yang tidak pernah terjangkau pikirku dan kesadaranku. Begitu jauh dari kenyataan, tempat itu memang bagai kukenali tapi waktu dan kehadiran dirimu serta kejadian-kejadian mengherankan aku terhadap nasibku. Aku bermimpi disebuah rumah dengan kondisi yang parah, semua berantakan, berserakan, darah dimana-mana, organ tubuh berserakan, aku tidak mengerti alasan kenapa aku berada ditempat itu.
Aku lihat kau berlarian dengan pakaian keputihanmu, menenteng obat-obatan, engkau terus berlari dan semakin samar dirimu terlihat. Kau, masih dapat ku kenali. Meski seluruh tubuhmu ngucur darah, meski pakaian putihmu tak lagi putih, penuh debu. Aku begitu tahu kalau itu adalah kamu. Tapi tepat dibelakangku, terlihat sosok gempal memegang sebilah pedang dengan posisi siap menerjang. Kamukah yang bakal menjadi sasarannya? Kuharap bukan kau, dan bila itu memang kau, ku ingin menolongmu, tapi kondisiku tak mungkin lagi. Tanganku terlepas, putus entah saat berlari dari ledakan tadi atau kena sayatan pedang pria itu.
Engkau semakin jauh, aku tak melihatmu.
Sakit teramat nyiksa diriku atas tubuh ini. Mata sulit membuka, perlahan kulihat sesosok kau disampingku, menggenggam jemariku, kau tertidur disampingku, “bangun da” tapi kau tak gerak. Meski kugoncang tubuhmu dengan satu lenganku. Kau tidak isaratkan hidup. Apa terjadi? Kucoba berdiri. Ku dirikan kau. Matamu tertutup, kau layu. Apa lagi ini tuhan? 6 meter dari posisi kita berada kudapati pria gempal rebah penuh darah. Dan ditangan kirimu menggenggam erat pedang.
Disela genggammu ada sebuah foto, sangat kukenal. Seorang wanita dengan tawa berbaju merah bendo kupu-kupu putih celana hitam, sosok Nike Kurnia Wati. Apa ini? Kenapa gadis itu ada bersamamu? Saat kau tiada, fotonya kau pegang, seolah isaratkan sesuatu yang musti kupahami. Ida? Kepadanyakah dirimu menjelma? Tapi kenapa dia? Kenapa wanita yang sangat sulit untuk ku dekati?
06 Juli 10, 5 : 19 wib. Hati ini terbungkus segenap rasa.
Aku bagai ada sesuatu rasa menyeka di hati. Senin besok, aku bakalan PL. Entah di SMP 3 N kota Solok atau di SMA N 1 X Koto Singkarak. Hal ini tergantung keputusan besok, kerena tadi Mizza meng-sms ku, dia ingin tukar posisi dengan ku. Lantaran aku ditempatkan di SMP 3 Solok, sedang dia ditempatkan di SMA 1 X Koto Singkarak. Alasannya agar tidak mengeluarkan banyak biaya. Aku setuju-setuju saja, apalagi itu merupakan tempat ku mengenal segala rasa, tentu banyak kenangan di SMA 1 Singkarak. Apalagi bila aku berada di lokal 3B2. Aduh, betapa leganya hati ini. Tapi, aku juga ada perasan risih karena sebahagian guru membenciku, lantaran kejadian demo dulu, mereka memfonis kalau akulah penanggungjawab kejadian itu. Lantaran waktu itu akulah yang menjadi ketua OSIS.
Siap tidak siap, ini bakal menjadi titik dimana aku berlari atau tetap selamanya seperti ini. Bila ku pandangi diri ini, aku tertawa sendiri, tidak menyangka ternyata aku tidak kanak lagi, seperti ungkapan yang diberikan paman Ben kepada Petter Paker “ Setiap kekuatan yang didatangkan kepada kita semakin besar kekuatan itu, maka akan semakin besar pula tanggungjawab yang lahir karenanya”. Aku akan berupaya menjadi seperti apa yang kuinginkan saat ini. Saat ini jalanku adalah menjadi seorang guru Bahasa Indonesia.
Aku terbayang akan cita-cita kecilku. Opsesi bocahku memang menjadi seorang guru, tapi seorang guru Matematika, hal itu menjadi kandas dikarenakan sikapku yang menurut saja apa yang dikehendaki dunia terhadapku. Kehendak orangtuaku menginginkan kalau aku menjadi seorang polisi, sedang Ida sangat benci pada polisi, hal itu sangat kontra. Dan aku tidak mengerti harus memilih apa, karena jujur aku tidak siap terhadap dunia dewasa, aku tidak tahu bagaimana caranya mengemukakan apa yang menjadi keinginanku. Sehingga aku mengalir saja seperti apa maunya dunia. Dan ku korbankan keinginanku.
Ternyata memang sesuatu yang tidak berasal dari keinginan hati hanya bakal menjadi suatu yang sia-sia. Dan dari proses itulah akirnya aku harus berada di UMMY. Dan sampai saat ini telah tiga tahun aku disana. Aku tidak boleh menyesali apa yang telah terjadi, karena hal yang saat ini kubutuhkan dan yang harus kukerjakan adalah menguatkan tekat dan bersungguh-sungguh menjalani apa yang sedang kujalani ini.
Umurku 22. Aku harus melompat dan menuju titik dewasa, titik dimana setiap perkataan,tindakan, apapun itu haruslah mempertimbangkan segala apa yang bakal terjadi. Aku tidak boleh lagi berbuat semauku. Aku tidak boleh lagi sesukaku. Aku harus mengikat diri terhadap norma dan kebiasaan yang berlaku dalam komunitasku. Dan aku tidak ingin lagi menjadi sesuatu yang bukan diriku. Akan ku jalani hidup dengan sketsa wajah diri yang aku idamkan. Aku harus berpegang kepada ungkapan sesuatu apapun pasti ada kesekwensinya, baik atau buruk harus aku terima. Dan aku tidak ingin lagi mengabailkan sesuatu, menganggap sesuatu itu perkara gampang, dan bila itu berembus aku tidak ingin lagi bersikap seolah tidak terjadi sesuatu.
Satu hari setelah upacara kemerdekaan 2010 12:13 pm.
Delapan hari sudah umat islam yang muslim menjalani ibadah puasa. Mengantikan rutinitas yang biasa ke rutinitas yang hanya bisa didapati di bulan suci ini. Masih saja aku tidak peduli pada dunia, pada akirat. Masih saja aku tidak pernah sekalipun menegakkan puasa pada malam hari. Tarawih dan witir ku hangus. Hal ini memang tiada harus menjadi alasan yang menjadikan aku malas pergi ke mesjid, lantaran waktu pertama kali ke mesjid di hari pertama puasa, aku tiada mendapat tempat untuk melakukan sholat. Keesokannya juga sama, hingga kuputuskan tidak akan ke mesjid lagi.
Puasa ku memang masih belum bolong. Bila itu dinilai dengan makan dan minum saja, tapi bila dinilai dari hal-hal yang membatalkan puasa? Ah, biar Allah yang Malik menilai. Lantaran aku menjaga kadai di malam hari hingga jam 4-5 am, membuat ku harus bangun jam 11 am. Semuanya terlantar, kampus, acara pesantren di SMA, upacara kemerdekaan.
Rutinitas ku adalah berawal dari rumah, menuju tempat biliar dan sore JJS setelah itu ke rumah dan menuju kedai. Di sebuah sore, saat aku dan Yozy JJS, ah Ida melintas membonceng seseorang dan kami saling membalas senyum. Tak berapa lama, Yozy membuka kata, bahwa yang dipakai Ida adalah motor karisma, pikiran kamipun menuju ke satu orang, Sandro. “ma antanan pabukoan untuak uda nyo nan dinas di kapolsek” gumam ojik. Biarlah, aku dan Ida memang mustahil.
Aku tersesat atas sesuatu yang ku namakan cinta. Kesendirianku dan keegoisanku yang tidak ingin membuka hati, masihkah yang kurasa ke Ida adalah cinta? Mungkinkah hanya sebentuk hasrat keegoisan? Mungkinkah hanya keinginan yang tiada rela bersebab ketiada jelasan antara aku dan Ida?
Ketika aku berjumpa Ida, rasanya tiada lagi sebentuk getaran, sebentuk rasa serba salah, sebentuk rasa yang senang melihatnya sekaligus degdegan. Rasanya sama seperti aku melihat semua wanita. Mungkinkah kejelasan antara aku dan Ida,hingga hidup ini indah?
Mungkinkah bila aku mencari sesosok wanita yang bisa mengerti bebanku akan membuat rasa ini berenkarnasi kepada nya? Bisakah sesosok itu datang dari kaum hawa yang biasa saja? Yang hanya aku yang bisa melihat kecantikannya.
31 agust 2010 11.57 am, aku berbahagia atas hidupku.
Semua terasa bagai digenggamku. Aku ingin melakukan apa yang aku ingin. Seperti melompatkan batu pada lautan. Seperti hasrat ingin membentuk gundukan gunung dengan pasir pantai. Seperti melompat-lompat di atas ayunan besar hingga sebagian jantungku berasa jatuh. Aku begitu rindu mendaki gunung, terjun dari ketinggian, kecepatan ratusan mengendarai motor, aku ingin mencapai kepuasan andrenalin.
Seminggu ini, aku dipertemukan waktu dengan udanya J dan bapaknya J. Bang Cun, seorang brimob yang memiliki tempat biliar di jalan ke Sulit Air, semuanya pecah karena Sandro membincangkan perihal hubungannya dengan wanita yang bakal menjadi istrinya, wanita yang merupakan mantan kekasihku kepada pakih, da andi. Hal itulah yang menggeming, hingga aku memasukkan diri pada kegamangan, bagai menampakan rasa ketakutan pada uda dan bapaknya J, dimata anggota kadaiku.
O6 12 2010 02: 16 pm, saat aku benaran gelisah akan hidup.
Senin ini merupakan hari petama amak ku tidak dirumah, beliau pergi ke Bandung (Azapun ikut) dalam waktu yang cukup lama,sebulan menuju tampat etekku,Eva yang bakal melahirkan anak keduanya. Dan ayahku juga pergi ke pulau mencari penghidupan karena di Solok saat ini tidak bersahabat, ah… ayahku,sosokmu adalah sosok idola pertamaku, bila ada yang bertanya tokoh faforit, maka namamulah yang kusebut, meski dalam kondisi yang tidak kuat, engkau tetap menjalankan kewajibanmu. Amak, ayah bila nantinya dikehidupan nanti aku terlahir kembali,aku ingin tetap menjadi anakmu.
Nasi tidak ada, sambal tidak ada, mungkin ini bisa mensukseskan program dietku. Aku ingin fit, menjejal dunia dengan PD tingkat tinggi, kan kutembus semua yang selama ini menyekaku, memandang remeh. Aku ingin ideal.
Nike, ku ingin berkisah tentangnya. 18 oktober lalu, bagai mendapatkan kunci untuk mendekati dirimu. Kau dan aku OL hingga kuminta nomor hp dan kau pun memberinya. Dari sinilah kisah ini bermulai sampai 30 11 2010 cerita itu musti dipaksa berakir meski belum membentuk kisah. Lebih sedikit dari sebulan, cukup bagiku merasakan keindahan karenamu. Aku mengenalmu, tidak seperti dahulu yang dirimu melarangku untuk tahu tentang dirimu lebih dalam. Aku dan kau menjadi teman curhat,teman bercerita.
Banyak juga yang kuketahui tentangmu, ada air mata, ada tawa, ada lelucon, ada kemarahan, ada pengambekan. Aku berasa bagai mendapat sinar kembali,bagai menemukan kembali poros hidup, tujuan hidupku.
Nkw, cinta ini ku alihkan padamu.
Aku senang pernah menjadi teman dikala kau pingin mencurahkan tangismu, saat kau kisahkan tentang cintamu, kisah mu, tentang amanah yang harus kujaga,yang kamu titipkan ke aku, amanah yang sangat berat tapi harus kujalani. Bahwa aku harus mencari sesosok pria yang menjadi hatimu, orang terakir yang pingin kau lihat ada didekatmu saat kau menutup duniamu. Aku musti belajar iklas, cintamu tidak untukku tapi aku bahagia bisa hadir memberi sedikit tawa dan bahu ketika kau merasa hidup ini tidak adil.
Miss imsonia, miss penakut, miss pangambok, miss pemarah semoga harimu tetap indah. Semoga kau bahagia dengan lelaki pilihanmu. Semoga kau tidak meneteskan airmata lagi. Dan aku,sesuai dengan keinginanmu, aku musti tahu diri, tahu akan posisiku, dan ak tidak bakal menjadi teman curhatmu lagi. Meski terkadang mimpi itu bukan aku yang mengharapkannya hadir tapi dirimulah yang menina bobokanku dengan mimpi-mimpi yang kau tawarkan dan kau sugukan padaku. Aku tahu bahwa itu hanyalah isengan mu. Entah kau serius atau hanya bercanda, tapi aku bagai berada di surga, saat kau katakan dengan berselimut canda dalam smsmu,kalau dirimu ingin menikah denganku, kau ingin agar aku dan kamu menjadi seorang pns, biar kelak bila tuhan telah mentakdirkan kita bersatu mqkq keturunan kita behagia.
Sampai saat ini aku masih mencitaimu nike. Aku masih akan dan ingin tetap mencintaimu. Masih ingin hanya kamu yang kuharapkan. Aku teringat kala senin dulu saat kita pergi ke dermaga Singkarak, mimpi itu bagiku serasa menjadi nyata. Dan masih segar diingatanku kalau Fera bilang bahwa aku harus mengatakan cinta padamu, karena katanya kamu akan menerimaku, karena waktu dia tanya ke kamu apakah kita telah jadian,kamu balas dengan senyum. Saat itu aku ingin menembakmu, tapi sesuai dengan permintaanmu yang tak ingin agar aku berharap lebih padamu, aku harus mengurungkan inginku. Aku senang saat membeli coklat untukmu meski sampai sat ini coklat itu masih kusimpan karena belum sempat memberikan padamu. ke, thanks kamu telah membuatku bersemangat. Aku senang main bola, aku senang berlari lagi, aku ingin agar nanti kau senang dengan ku. Aku teringat hari sabtu itu, hari terakir kita harus dekat. Aku ingin ulang tapi kamu menahanku agar kita bertemu, hitam. Semua hitam warna kesukaanku kamu pakai,kamu sungguh keren ke. Semua indah hingga tamparan itu menyakitiku dan aku bangun dari mimpi.
Nike nike nike aku cinta kamu.
Meski wajahmu ku akui tak seindah ida
Meski sikapmu saat ini ku akui tak seislam ida
Meski kuakui dirimu pandai bersandiwara
Meski setiap katamu kutahu ada mengandung dusta
Harus aku akui aku cinta kamu,apapun dirimu aku cinta.
Nike nike, kau dan ida keduanya sama mustahil.
Keduanya mendapat tempat dihatiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: